Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mahakam

Jalan Masih Panjang : Karang Mumus

Gambar
Apa yang dilakukan oleh kita dalam merestorasi sungai hingga saat ini barulah langkah kecil. Meski mendapat apresiasi dari berbagai pihak namun dampaknya untuk Sungai Karang Mumus secara langsung belumlah significant. Oleh Fitriyani Sinaga Kondisi terkini Sungai Karang Mumus 2019. Musim Kemarau Dari sisi jangkauan kegiatan, saat ini GMSS SKM yang aktif di sungai karang Mumus, baru bisa beraktivitas dari Muara Sungai Karang Mumus di Sungai Mahakam hingga Bendung Benanga. Masih ada separuh lebih aliran Sungai Karang Mumus yang belum dikenali oleh GMSS SKM. Dari sisi DAS, wilayah yang dijangkau oleh GMSS SKM adalah wilayah Kota Samarinda, sementara itu DAS Karang Mumus masuk dalam dua wilayah pemerintahan yaitu Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda. Dengan demikian jalan untuk memulihkan, menjaga dan merawat Sungai Karang Mumus sehingga bisa menghasilkan air yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan berkesinambungan (Kualitas-Kuantitas-Kontinuitas) masihlah pa...

Pak Abdul dan Rumah Ramah Sungainya

Gambar
Satu rumah yang berada di Gunung Lingai yang lingkungannya ditumbuhi dengan pepohonan. Adalah Pak Abdul, yang dulu merupakan warga Gang Nibung, warga yang terkena program lokasi. Mendapat rumah di Talangsari, Pak Abdul merasa tak nyaman tinggal jauh dari sungai. Hingga kemudian membeli tanah di Gunung Lingai dan bermukim disana. Rumah Bapak Abdul Berbeda dari warga lainnya, Pak Abdul menanami kanan-kiri dan depan rumahnya yang berada di pinggir Sungai Karang Mumus dengan Pohon Kademba (Sapat/Kratum/Puri). Pohon ini biasa tumbuh sendiri di tumpukan lumpur pinggir sungai dan tahan terendam air. Pohon dengan batang lurus dan berkulih putih ini bisa ditemui di sepanjang Sungai Karang Mumus mulai dari sebelum jembatan S. Parman hingga Bendungan Benanga. Pertemuan dengan Pak Abdul menjadi stand point dari langkah GMSS SKM untuk memulai mengibarkan bendera restorasi sungai. Dari susur sungai pula GMSS SKM menemukan salah satu titik yang tersisa di Sungai Karang Mumus yang masih m...

Cross Cutting untuk Keberlangsungan Ekosistem Sungai

Gambar
Sungai merupakan akses hidup masyarakat kalimantan Timur. Tetapi pada fase ini, sungau sudah bukan lagi diperhatikan dan diutamakan keberadaannya oleh pemerintah dan sebagian warga Kaltim. Ada banyak dampak yang sudah terjadi akibat rusaknya Daerah aliran sungai di Kaltim, untuk itu dalam suatu perencana perencanaan pembangunan restorasi untuk keberlangsung sungai dibutuhkan Cross Cutting . Cross Cutting mungkin jarang Kita dengar padahal aspek dal hal ini cross cutting sangat diperlukan.  Yang dimaksud dengan cross cutting adalah kegiatan atau aktivitas yang tidak secara langsung terkait dengan program namun akan mendukung atau merupakan dampak lanjut dari program. Berikut hal hal mengenai cross cutting sebagai daya dukung dalam keberlangan Sungai Pemanfaatan RTH Jln. Abdul muthalib sebagai ruang Kesehatan Pengembangan Pendapatan Alternatif  (ramah lingkungan)   Usaha Ekonomi Produktif (UEP) di permukiman sepanjang tepian sungai akan menjadi perhatian...

Informasi data berita tentang fakta,edukasi dan analisis tentang kehutanan, pertanian, pendidikan budaya sosial dan lingkungan hidup. Ragam berita konservasi dan sains lingkungan. @ Seorang pembelajar yang menyenangi membaca dan menulis Jurnal ilmiah. Acap kali juga ngopi dengan penjaga toilet, satpam dan tukang parkir di pinggiran jalan . Kadang mendaki gunung dan memancing ikan dilaut. Masa kecilku Sering nongkrong di sawah bersama petani dan mengembala kerbau di Ladang. @nagadragn