Postingan

Menampilkan postingan dengan label ibu kota baru

Alam Untuk Air: Mempertahankan Rawa agar Kota Layak Huni

Gambar
Mengabaikan air ? Jawaban Persoalan Keairan Tersedia di Alam.  Dalam kebudayaan air kita agungkan, pada perilaku air kita nistakan. Masih manusia yang berpikir kah ?   Oleh Fitriyani Sinaga Kondisi rawa samarinda di tengah Perkotaan Kebudayaan apapun mengajarkan air sebagai sesuatu yang maha penting. Air digambarkan sebagai emas (tirta kencana), kehidupan (tirta amerta) dan kesucian. Namun dalam perilaku sehari-hari terlalu banyak contoh yang membuktikan bahwa kita abai terhadap pentingnya air. Air hanya kita nikmati, kita ekploitasi. Mungkin kita menganggap punya banyak air sehingga air tidak kita jaga, tidak kita rawat. Dan hasilnya saat ini kita banyak mengalami masalah terkait dengan air. Air bersih dan sehat kini bahkan menjadi sebuah kemewahan bagi banyak orang. Terlalu Banyak Terlalu banyak air hujan yang menjadi air permukaan sehingga musim hujan identik dengan musim banjir. Terlalu Sedikit Sebagian besar air hujan menjadi air permukaa...

Lahirnya GMSS-SKM di Samarinda

Gambar
wadah tapi bukan untuk membesarkan organisasi. Sejak semula Misman tak pernah memaksudkan GMSS SKM menjadi sebuah organisasi. Prinsipnya adalah setiap orang mengorganisir dirinya sendiri, beraktifitas bersama GMSS SKM berdasarkan kemampuan dan sumberdaya masing-masing. Iyau Tuoang sedang merapikan papan Gmss-Skm Namun atas desakan dari sesama pewarta di PWI Kaltim, akhirnya GMSS SKM diformalkan lewat Akta Pendirian Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS SKM) dihadapan Notaris H.M Sutamsis, SH,MH,M.Kn dengan nomor akta 19, pada tanggal 27 Januari 2016. Pendirian organisasi ini dimaksudkan untuk kepentingan taktis dan strategis jika ke depan GMSS SKM harus bekerjasama secara formal dengan lembaga manapun yang menuntutan adanya pertanggungjawaban hukum. Namun dalam kegiatan sehari-hari GMSS SKM, Misman selaku Ketua umum tetap kukuh dalam pendiriannya. Bahwa organisasi tidaklah yang utama, yang utama adalah kerja, kerja dan ke...

Wajah Karang Mumus yang Berubah

Gambar
Sungai Karang Mumus (SKM) adalah sungai utama di Kota Samarinda yang masih memberikan layanan ekosistem bagi warga yang memanfaatkannya sebagai sumber air bersih, tempat mencari ikan dan jalur transportasi air. Nelayan Karangmumus Namun selama puluhan tahun terakhir ini SKM terus mengalami tekanan hebat sehingga airnya bukan hanya keruh kecoklatan melainkan kerap berwarna hitam dan berbau. Akibatnya berbagai jenis ikan perlahan menghilang dan ikan yang mulai dominan adalah ikan Cicak atau Ikan Sapu Sapu. Anak Sungai Mahakam ini memiliki panjang 34,7 kilometer yang  bermula dari Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara. DAS SKM adalah sub-sub DAS Sungai Mahakam Ilir yang secara topografis daerah alirannya berbukit-bukit dan sebagian datar, serta terdapat rawa-rawa pasang surut dan anak sungai diantaranya adalah Sungai Lubang Putang, Sungai Siring,Sungai Lantung, Sungai Muang, Sungai Selindung, Sungai Bayur, Sungai Lingai dan Sungai Bengkuring. ...

Informasi data berita tentang fakta,edukasi dan analisis tentang kehutanan, pertanian, pendidikan budaya sosial dan lingkungan hidup. Ragam berita konservasi dan sains lingkungan. @ Seorang pembelajar yang menyenangi membaca dan menulis Jurnal ilmiah. Acap kali juga ngopi dengan penjaga toilet, satpam dan tukang parkir di pinggiran jalan . Kadang mendaki gunung dan memancing ikan dilaut. Masa kecilku Sering nongkrong di sawah bersama petani dan mengembala kerbau di Ladang. @nagadragn