Pak Abdul dan Rumah Ramah Sungainya
Adalah Pak Abdul, yang dulu merupakan warga Gang Nibung, warga yang terkena program lokasi. Mendapat rumah di Talangsari, Pak Abdul merasa tak nyaman tinggal jauh dari sungai. Hingga kemudian membeli tanah di Gunung Lingai dan bermukim disana.
Rumah Bapak Abdul |
Berbeda dari warga lainnya, Pak Abdul menanami kanan-kiri dan depan rumahnya yang berada di pinggir Sungai Karang Mumus dengan Pohon Kademba (Sapat/Kratum/Puri). Pohon ini biasa tumbuh sendiri di tumpukan lumpur pinggir sungai dan tahan terendam air. Pohon dengan batang lurus dan berkulih putih ini bisa ditemui di sepanjang Sungai Karang Mumus mulai dari sebelum jembatan S. Parman hingga Bendungan Benanga.
Pertemuan dengan Pak Abdul menjadi stand point dari langkah GMSS SKM untuk memulai mengibarkan bendera restorasi sungai. Dari susur sungai pula GMSS SKM menemukan salah satu titik yang tersisa di Sungai Karang Mumus yang masih mempunyai tutupan vegetasi alamiah. Kondisi yang paling asli dari Sungai Karang Mumus, gambaran ekosistem sungai dengan komposisi vegetasi dan koneksi dengan rawa-rawa pasang surut di kanan kiri sungai. Lokasi itu kini kerap disebut sebagai Kanopi.
Lewat susur sungai, GMSS SKM semakin memantapkan pandangan bahwa sungai bukan hanya untuk manusia. GMSS SKM kemudian mulai mengkritisi pendekatan terhadap permasalahan sungai yang cenderung antroposentris. Sikap ini disampaikan bukan hanya lewat pandangan melainkan juga dengan aksi, yaitu mengembangkan pusat pembibitan native spesies, atau tumbuhan yang dulu dikenal hidup di tepian Sungai Karang Mumus.
Identifikasi tumbuhan selain dilakukan melalui susur sungai, juga lewat dialog atau cerita dengan warga yang berada di tepi sungai atau warga yang mengenal Sungai Karang Mumus di masa lalu.
Upaya GMSS SKM untuk mengembangkan pusat pembibitan ini kemudian didukung oleh BP DAS HL Mahakam Berau lewat program KBR (Kebun Bibit Rakyat). Dengan dukungan ini, kini GMSS SKM mempunyai Pondok Semai, Bedeng Sapih dan Bedeng Pembesaran yang berada di kompleks SeSuKaMu. Keberadaan pusat pembibitan ini juga dimungkinkan oleh Bapak Jarni, warga Muang Ilir yang rela meminjamkan tanahnya.
Lewat Pusat Pembibitan Native Spesies ini GMSS SKM berhasil membibitkan berbagai macam tumbuhan, namun beberapa yang lainnya belum berhasil sehingga mesti mengambil bibit dari alam. Beberapa tumbuhan spesies Sungai Karang Mumus yang kini ada di Pusat Pembibitan adalah :
Bungur
Kademba
Putat
Rengas
Singkuang
Bengalon
Bayur
Ipil
Bengkal
Rambai Padi
Katong
Bamban
Rumbia
Kariwaya
Pule
Dll.
GMSS SKM mempunyai target untuk menyediakan kurang lebih 20 ribu pohon siap tanam. Kini jumlahnya sudah mendekati 10 ribu pohon. Sebagian sudah mulai ditanam untuk menumbuhkan kembali riparian Sungai Karang Mumus di Muang Ilir.
Beberapa jenis pohon belum terindentifikasi, beberapa yang lainnya belum ditemukan keberadaan di pinggir Sungai Karang Mumus. Sehingga beberapa jenis pohon ditanam sebagai koleksi agar nanti bisa menjadi pohon indukan.
Selain itu Pusat Pembibitan juga mengembangkan jenis buah-buahan lokal, seperti Kapul, Tarap, Ketapi, Mentega, Ramania, Krantungan, Lahung, Asam Payang dan lain-lain. Pusat Pembibitan juga mempunyai bibit buah-buahan dari BP DAS HAL Mahakam Berau seperti Jambu, Mangis, Sirsak, Durian, Mangga, Rambutan, Alpokat, Duku, Sawo. Juga tanaman produktif sumbangan warga seperti Kopi dan Kelapa.
Tanaman-tanaman buah ini akan diberikan kepada warga yang bersedia menanam di kebun masing-masing, dengan syarat ditanam diluar jalur hijau.
Pak abdul memberikan Inspirasi untuk rumah ramah lingkungan di Samarinda.
Oleh Fitriyani Sinaga
Komentar
Posting Komentar