Postingan

Lindungi Gambut Merawat Iklim

Gambar
Mahasiswa Peneliti Gambut Muara Kaman 2019 Fitriyani Sinaga - Kerab kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dikaitkan dengan gambut. Riau, Kalimantan Barat, kalimantan Tengah dan kalimantan timur sangat sering menajdi langganan sijago merah ini setiap musim kemarau. Dalih Kemarau menjadi triger untuk timbulnya percikan dan ganasnya api melahap hutan. Karhutla ini menjadi musim tahunan yang mengkambing-hitamkan gambut.  Padahal jika pengelolaannya mengikuti logika gambut dengan tetap mempertahankan air yang tertahan didalam tanpa ada kanal, gambut dapat mempertahankan kelembapannya agar tak terbakar. kondisi menjadi sangat berbanding terbalik dengan program badan restorasi gambut terkait sekat kanal semenisasi yang justru malah mengahalangi siklus air dalam tanah dan cenderung mengisap air dengan cepat.    baca juga tulisan naga terkait perjalannh di negeri gambut Kaltim https://www.sketsaunmul.co/press-release/sylva-mulawarman-meneropong-dan-jajaki-hut...

Alam Untuk Air: Mempertahankan Rawa agar Kota Layak Huni

Gambar
Mengabaikan air ? Jawaban Persoalan Keairan Tersedia di Alam.  Dalam kebudayaan air kita agungkan, pada perilaku air kita nistakan. Masih manusia yang berpikir kah ?   Oleh Fitriyani Sinaga Kondisi rawa samarinda di tengah Perkotaan Kebudayaan apapun mengajarkan air sebagai sesuatu yang maha penting. Air digambarkan sebagai emas (tirta kencana), kehidupan (tirta amerta) dan kesucian. Namun dalam perilaku sehari-hari terlalu banyak contoh yang membuktikan bahwa kita abai terhadap pentingnya air. Air hanya kita nikmati, kita ekploitasi. Mungkin kita menganggap punya banyak air sehingga air tidak kita jaga, tidak kita rawat. Dan hasilnya saat ini kita banyak mengalami masalah terkait dengan air. Air bersih dan sehat kini bahkan menjadi sebuah kemewahan bagi banyak orang. Terlalu Banyak Terlalu banyak air hujan yang menjadi air permukaan sehingga musim hujan identik dengan musim banjir. Terlalu Sedikit Sebagian besar air hujan menjadi air permukaa...

Soekarno Menangis:46 Detik Samarinda Mencekam G30S/Menggugat

Gambar
“Indonesia gundah gulana dalam kurun waktu 3   pekan ini, Karhutla dengan kepulan asap dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Belum usai kasus pelanggaran HAM di Papua, masyarakat sipil dan mahasiswa serta pelajar bersama-sama turun ke jalan diberbagai daerah dan Peristiwa mengenaskan di Wamena. Aksi demo dilakukan sebagai pengawalan dan bentuk protes terhadap DPR yang menghasilkan peraturan-peraturan kontroversial yang tidak   pro-rakyat. Parlemen saat ini membuka jalan agar reformasi dikorupsi lewat prodak hukum Indonesia. Berawal dari Aksi demo Karhutla di Riau hingga seluruh Indonesia juga bergerak menyuarakan permasalahan lintas sektor, tak terkecuali di Samarinda. Terhitung telah   Jilid ke tiga, tanggal 30 September 2019, masyarakat Samarinda yang mengatasnamakan Aliansi kaltim Bersatu melakukan aksi demo di Depan Gedung DPRD Provinsi Kaltim. Aksi ini mendapatkan represif aparat dan menyisakan korban luka-luka karena tembakan  peluru karet dan dan gas beracun...

Menjaga Sungai Merawat Iklim

Gambar
"Gejala paling jelas di negeri kita yang mempunyai dua musim adalah kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Kini akibat perubahan iklim kita mengenal musim kering dan musim banjir.  Sungai menjadi salah satu penanda penting dari fenomena perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Wajah sungai adalah cermin dari perilaku kita.  Jasa atau layanan ekologis/ekosistem ruang sungai bukan hanya soal keteduhan, kejernihan airnya tetapi juga sumber perekonomian rakyat.  perlu ripaian sungai, restorasi ekosistem, restoasi kelembagaan, hidrologi dan Restorasi sosio ekonomi Kultural, apa partisipasi yang dapat kita lakukan?"  Oleh Fitriyani Sinaga Lahan petani yang Kering Climate Change atau perubahan iklim adalah kondisi ketidakseimbangan iklim akibat pola pemanfaatan sumberdaya, lingkungan, ruang dan lahan yang tidak ramah lingkungan atau tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan. Gejala paling jelas di negeri kita yang mempunyai dua musim adalah...

Masyarakat Adat vs RUU Pertanahan, Sebuah Refleksi Hari Tani, Utopis Kelestarian Hutan?

Gambar
Petani Kutai Barat “ Hutan dikelola secara lestari menjadi mimpi kita bersama. Hutan dan lahan pertanian sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui semestinya bisa dikelola bertani secara adil dan ekologis  guna mendukung perikehidupan bersama, khususnya masyarakat yang tinggal disekitarnya. Kepastian hak Masyarakat adat sebagai wujud pengakuan dan perlundungan masyarakat adat di wilayah hutan adat yang Eksistensinya bertani, berburu dan berusaha di sektor kehutanan dengan mengedepankan ekologi dan pendekatan Sosio Kultur. Refleksi atas tani hari ini, ketahanan pangan, kinerja Parlemen dan pemerintah dalam menyelesaikan reforma agraria: Mari  tolak RUU Pertanahan, menyelesaikan masalah tetapi mengabaikan akar masalahnya. Pak Tani Ku kusayang, pak tani Ku Malang”. Oleh Fitriyani Sinaga Hari Tani dan Penolakan RUU Pertanahan Dalam kondisi resesi pangan dan kebijakan tani saat ini bahkan telah memasuki era depresi kebijakan nasional. Kita masih menyaksikan seca...

Informasi data berita tentang fakta,edukasi dan analisis tentang kehutanan, pertanian, pendidikan budaya sosial dan lingkungan hidup. Ragam berita konservasi dan sains lingkungan. @ Seorang pembelajar yang menyenangi membaca dan menulis Jurnal ilmiah. Acap kali juga ngopi dengan penjaga toilet, satpam dan tukang parkir di pinggiran jalan . Kadang mendaki gunung dan memancing ikan dilaut. Masa kecilku Sering nongkrong di sawah bersama petani dan mengembala kerbau di Ladang. @nagadragn